COGNITIVE ERGONOMICS : AI di Era Teknologi Digital Manusia, Mesin, dan Tantangan Menjaga Kesadaran Berpikir
Selamat Pagi blogger, pagi ini saya dapat kiriman WA dari kolega, tentang bagaimana sudut pandang Manusia, Mesin dan AI dalam menjaga kesadaran berpikir di Era Teknologi Digital. artikel ini di tulis oleh dosen senior di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Indonesia yaitu Sritomo W. Soebroto pada tanggal 10 Mei 2026. saya tidak berpihak ke siapapun ,tetapi artikel ini saya unggah di blog saya, untuk bahan mengingatkan saya tentang cara berpikir di era digital dalam menerima informasi, sehingga kita bisa membaca, memerika, dan mempertimbangkan sumber tersebut atau Bahasa gaulnya tabayun, semoga artikel yang saya kutip ini dapat bermafaat,
--------------------------------------------------------------------------------------
Di tengah derasnya arus media sosial hari ini, kita sedang menghadapi perubahan besar dalam cara manusia menerima, memahami, dan menyebarkan informasi.
Dahulu orang berbicara setelah membaca, memeriksa, dan mempertimbangkan sumber. Sekarang, banyak orang justru lebih cepat menekan tombol “share” daripada berpikir. Fenomena inilah yang sering disebut secara sederhana sebagai sharing tanpa saring.
Masalahnya bukan sekadar informasi menjadi cepat menyebar.
Masalah utamanya adalah ketika informasi yang beredar tidak lagi dibangun di atas verifikasi, data, dan tanggung jawab moral, melainkan atas emosi, prasangka, kepentingan politik, bahkan provokasi bermuatan SARA. Dalam situasi seperti ini, media sosial berubah dari ruang pertukaran pengetahuan menjadi arena perang narasi.
Yang memprihatinkan, fenomena ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam. Banyak kalangan terdidik, intelektual, bahkan akademisi, ikut terbawa arus. Tanpa sadar, mereka menjadi bagian dari pola “saur-manuk”: mengulang narasi yang beredar tanpa proses berpikir kritis yang memadai.
Padahal semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar tanggung jawab intelektualnya dalam menjaga kualitas informasi publik.
????Ergonomi Kognitif dan Sistem Manusia–Mesin
Dalam ilmu ergonomi atau Human Factors Engineering, manusia selalu dipahami sebagai pusat dari sebuah sistem kerja (work system). Teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari interaksi antara manusia, mesin, lingkungan, organisasi, dan proses pengambilan keputusan.
Secara klasik, ergonomi berkembang untuk memahami bagaimana mesin membantu kerja fisik manusia dalam hal: mengurangi beban angkat, meningkatkan efisiensi gerak, memperbaiki keselamatan kerja, dan juga mengurangi kelelahan fisik.
Namun seiring perkembangan teknologi digital, fokus ergonomi berkembang menuju ranah Cognitive Ergonomics atau ergonomi kognitif. Ergonomi kognitif mempelajari bagaimana manusia menerima informasi, memperhatikan, mengingat, memahami, mengambil keputusan, dan merespons suatu situasi dalam interaksi dengan sistem teknologi.
Dengan kata lain, jika ergonomi fisik berbicara tentang otot dan gerakan tubuh, maka ergonomi kognitif berbicara tentang:
- persepsi,
- perhatian,
- memori,
- beban mental,
- pengambilan keputusan,
- kesadaran situasional (situational awareness), dan
- proses berpikir manusia.
Di sinilah AI mulai masuk secara sangat signifikan dalam kehidupan manusia modern.
????AI sebagai Mesin Kognitif
Jika dahulu mesin industri membantu tenaga fisik manusia, maka AI dapat dipahami sebagai “mesin kognitif” yang membantu kerja mental manusia. Disini
AI mampu:
- mencari dan mengolah data,
- mengenali pola,
- membantu analisis,
- mempercepat penyusunan informasi,
- membantu simulasi keputusan, bahkan
- menghasilkan teks, gambar, dan suara.
Dalam konteks ergonomi kognitif, AI sebenarnya adalah bentuk baru dari decision support system.
Ia membantu manusia mengurangi beban kerja mental, mempercepat proses berpikir, dan meningkatkan efisiensi pengolahan informasi.
Karena itu AI memiliki manfaat besar dalam:
pendidikan, kesehatan, industri, transportasi,
riset, pelayanan publik, hingga manajemen organisasi.
Hari ini dokter dibantu AI membaca citra medis. Pilot dibantu sistem otomatis dalam navigasi penerbangan. Operator industri dibantu dashboard digital dalam pengambilan keputusan cepat. Dosen dan peneliti dibantu AI untuk eksplorasi data dan pengolahan literatur.
- Artinya, AI bukan musuh manusia.
- AI adalah alat bantu kognitif (cognitive tool).
????Risiko Kognitif di Era AI dan Media Sosial
Namun di sinilah muncul persoalan baru. Ketika teknologi semakin mampu “berpikir”, manusia justru berisiko kehilangan kebiasaan berpikir mendalam. Informasi yang terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu instan dapat menimbulkan apa yang dalam ergonomi disebut sebagai:
- cognitive overload (kelebihan beban informasi),
- attention fragmentation (perhatian yang terpecah), dan
- decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan).
Akibatnya manusia menjadi:
- mudah bereaksi emosional,
- sulit membedakan fakta dan opini,
- mudah dipengaruhi algoritma,
- serta kehilangan kemampuan refleksi kritis.
Dalam media sosial, algoritma bekerja berdasarkan perhatian dan emosi manusia. Konten yang provokatif, sensasional, atau memancing kemarahan biasanya lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang tenang dan mendalam. Akibatnya, ruang digital sering kali lebih mendorong reaksi spontan daripada perenungan.
Dalam perspektif ergonomi kognitif, kondisi ini sebenarnya merupakan masalah desain sistem manusia–mesin. Teknologi yang seharusnya membantu manusia memahami realitas, justru kadang membuat manusia tenggelam dalam kebisingan informasi.
????AI, Kesadaran Manusia, dan Tanggung Jawab Moral
Karena itu tantangan terbesar era AI bukan sekadar menciptakan mesin yang semakin pintar, tetapi menjaga agar manusia tetap menjadi pusat kendali kesadaran.
AI mampu menghasilkan jawaban cepat. Tetapi AI tidak memiliki:
- pengalaman hidup,
- empati,
- intuisi moral, maupun
- kebijaksanaan manusia.
AI bekerja berdasarkan pola data. Sedangkan manusia hidup dalam makna dan nilai. Di sinilah letak pentingnya tanggung jawab intelektual dan moral manusia.
Teknologi seharusnya dipakai untuk:
- memperkuat kemampuan berpikir,
- memperluas wawasan,
- membantu analisis, dan
- meningkatkan kualitas keputusan.
Bukan untuk menggantikan proses berpikir manusia sepenuhnya.
Karena ketika manusia berhenti berpikir kritis dan menyerahkan seluruh kesadarannya kepada mesin maupun arus narasi digital, maka teknologi dapat berubah dari alat bantu menjadi alat manipulasi.
????Menuju Ekosistem Teknologi yang Human-Centered
Prinsip dasar ergonomi selalu menempatkan manusia sebagai pusat desain sistem. Dalam konteks AI, pendekatan ini dikenal sebagai: Human-Centered AI,
atau Human-Centered Design.
Prinsipnya sederhana:
teknologi harus menyesuaikan diri dengan manusia, bukan manusia dipaksa mengikuti logika teknologi.
Karena itu pengembangan AI ke depan seharusnya tidak hanya mengejar: kecepatan, otomatisasi, dan efisiensi, tetapi juga:
- kesehatan mental,
- kualitas perhatian,
- etika informasi,
- keselamatan sosial, dan
- keberlanjutan peradaban manusia.
Tujuan akhirnya bukan menciptakan masyarakat yang paling cepat bereaksi, tetapi masyarakat yang tetap mampu berpikir jernih, memahami konteks, dan bertanggung jawab atas informasi yang disebarkannya.
T.S. Eliot pernah mengingatkan:
“Where is the wisdom we have lost in knowledge?
Where is the knowledge we have lost in information?”
— The Rock (1934)
Pertanyaan itu terasa semakin relevan di era AI dan media sosial hari ini.
Karena pada akhirnya, ancaman terbesar peradaban modern mungkin bukan ketika mesin menjadi terlalu pintar, tetapi ketika manusia berhenti menggunakan kejernihan akalnya sendiri.
AI hanyalah alat.
Dan alat yang baik seharusnya membantu manusia menjadi lebih bijak, lebih manusiawi, dan lebih bertanggung jawab terhadap masa depan peradabannya.
@PakMok & His AI Assistant - Eagle Flies Alone, 10.05.2026





